Minggu, 18 Januari 2015

Mengheningkan Cipta judulnya


Teringat rutinas di hari Senin saat sekolah dulu yaitu upacara pengibaran bendera putih. Yang mana salah satu agendanya adalah mengheningkan cipta. Dan tulisan ini berawal dari obrolan di kantin kampus, dengan cuplikan sebagai berikut :
A : saat upacara dulu itu yang membosankan adalah saat dikatakan “tundukkan kepala sejenak Mengheningkan Cipta dimulai, …… selesai”. Apaan tidak bermakna sekali.
F : Bagiku itu adalah saat-saat mengharuhkan sampai-sampai membuatku merinding.
A : Iya lirik juga sungguh luar biasa, Angkasa Raya Memuji, wiiih puitis sekali.
F : Lirik yang paling membuat merinding itu saat nadanya naik di Harga, Jasa kau cahya pelita..dst Itu sungguh mengharuhkan.

Memang sangat disayangkan jika mengheningkan cipta hanya dianggap sebagai bagian dari rutinitas yang tidak mempunyai makna sama sekali. Jika kita coba mengkaji dan menghayati tiap lirik dari lagu tersebut memang mengandung makna yang sangat besar. Penghayatan akan tiap liriknya bagi saya mempunyai power yang sangat kuat untuk membangkitkan jiwa nasionalisme. Betapa tidak jika kita mengenang jasa-jasa para pahlawan kita yang rela mengorbankan seluruh hidupnya demi negeri ini sungguh egois jika kita tidak tergoyahkan untuk mencintai kemerdekaan yang telah diberikan para pahlawan kita. Iya merdeka Indonesia memang merdeka walau pun pembahasan yang mendalam mengenai negeri ini merdeka atau tidak itu urusan belakangan yang jelas kita telah diakui berdaulat. Masalah mengisi kedaulatanlah yang menjadi tanda Tanya (???).

Indonesia saat merdeka tidak hanya dengan Proclamation of Independent tetapi juga diikuti dengan Declaration of Independent yang mana menjelaskan tujuan/arah mau dikemanakan bangsa ini setelah Proklamasi. Preambule dan UUD 1945 yang ada di dalam jiwa rakyat Indonesia telah jelas siap menantang negara-negara lain yang mencoba menggoyahkan kedaulatan kita.

Tetapi kini coba kita lihat keadaan Indonesia, sungguh menyedihkan. Negara-negara asing tidak perlu lagi bersusah payah mencari jalan untuk merongrong kedaulatan kita tetapi para pemimpin kita sendiri yang akan menghancurkan bangsa yang kita cintai ini. Jelas carut-marutnya politik di Indonesia saat ini tak lepas dari pudarnya jiwa nasionalisme yang dimiliki oleh pemimpin bangsa kita ini. Perebutan jabatan dan kumpulan orang yang sakit hati itu lah yang merajalela di negeri tercinta kita ini. Sudah sangat jarang kita temui pemimpin yang bekerja untuk kemajuan negeri ini, pemimpin yang revolusioner. Bangsa kita kini dihapkan dengan krisis kepemimpinan, tanpa menafikan pemimpin revolusioner sekelas Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah.


Sekarang menjadi tantangan bagi para Generasi Muda Indonesia, Generasi Penerus Pelurus Bangsa yang meluruskan kembali segala hal yang salah dinegeri ini bukan meneruskannya.

Itulah pembahasan saat minum kopi di kantin (JASMIP) yang berawal dari pembahasan Mengheningkan Cipta.

Jika menurut anda postingan ini bermanfaat bagikan ke teman-teman di :

BaCa iNi juga ya... Related:

2 komentar:

Reni Judhanto mengatakan...

Menurutku masih ada kok pemimpin yang cinta dan peduli pada negara ini. Aku memilih optimis aja :)

ul ak mengatakan...

terima kasih telah berbagi info....
infonya sangat bermamfaat.....
salam kenal dan salam sukses..
.

Posting Komentar

komentar anda adalah batu loncatan buat saya, mohon tinggalkan komentar.. terima kasih